Minggu, 17 November 2013

BAB I
PENDAHULUAN
A.      LATAR BELAKANG MASALAH
Dalam usaha penulisan sejarah, haruslah disusun berdasarkan bukti yang berupa peninggalan-peninggalan dari perbuatan manusia di masa lampau. Peninggalan-peninggalan manusia dari masa lampau disebut sebagai sumber sejarah. Sumber Tertulis, Contoh: prasasti, kronik, babad, hikayat, surat-surat, laporan, notulen rapat. Sumber Benda (Artefak), Contoh: Fosil, senjata, peralatan hidup, perhiasan, prasasti, candi, stupa, foto, patung, nisan dan bangunan. Sumber Lisan, Sumber lisan adalah keterangan langsung dari pelaku atau saksi sejarah. Misal: saksi sejarah yang masih hidup dari zaman    pendudukan Jepang, awal kemerdekaan, peristiwa G 30 S/PKI.

Sumber Rekaman, Sumber rekaman berupa baik rekaman kaset audio maupun rekaman kaset video. Misal: rekaman peristiwa sekitar proklamasi.
Beberapa hal yang harus diperhatikan bagi seorang peneliti sejarah sehubungan dengan sumber-sumber sejarah adalah: Reliability (terpercayanya sumber), Credibility (kuatnya sumber), Validity (sahihnya sumber)
Berdasarkan urutan penyampaiannya, sumber sejarah dibagi dalam beberapa jenis sebagai berikut: Sumber Primer Yaitu peninggalan asli sejarah, seperti: prasasti, kronik, piagam, candi yang benar-benar berasal dari zamannya. Sumber Sekunder Adalah benda-benda tiruan dari benda aslinya atau sumber-sumber kepustakaan sebagai hasil penelitian ahli-ahli sejarah, seperti: prasasti tinulad (tiruan), laporan dan terjemahan kitab-kitab kuno. Sumber Tersier Yaitu berupa buku-buku sejarah yang disusun berdasarkan laporan penelitian ahli sejarah tanpa melakukan penelitian langsung.



BAB II
SUMBER BUKTI DAN FAKTA SEJARAH

A.      Sumber Sejarah
Untuk mengungkap kembali peristiwa-peristiwa masa lampau menjadi suatu kisah sejarah diperlukan adanya sumber, bukti serta fakta-fakta sejarah. Dari sumber, bukti serta fakta-fakta sejarah dapat diperoleh sejumlah informasi yang menjelaskan tentang terjadinya suatu peristiwa tertentu.

Sumber merupakan pusat informasi baik berupa keterangan tertulis maupun keterangan lisan. Sumber sejarah dapat berupa dokumen, catatan, prasasti, berita, arsip dan lain sebagainya. Didalam sumber itu sendiri terdapat bukti dan fakta yang berhubungan dengan terjadinya peristiwa. Contoh : “Seorang siswa dinyatakan telah lulus sekolah apabila telah memiliki bukti tertulis yang berupa ijazah, raport, surat keterangan hasil ujian”. Bukti-bukti tersebut dapat menjadi fakta yang menunjuk pada kejadian secara nyata. Dengan adanya sumber, bukti dan fakta maka setiap peristiwa yang pernah terjadi dapat dipercaya kebenarannya.

Berdasarkan pada sifatnya maka sumber sejarah dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu :

1.      Sumber primer
Merupakan informasi yang diperoleh secara langsung dari para pelaku atau saksi peristiwa bersejarah. Informasi ini berupa keterangan lisan sehingga dapat menjadi sumber utama mengenai peristiwa-peristiwa yang terjadi pada masa lampau. Contoh : “Ir. Soekarno, Drs. Mohammad Hatta, Mr. Ahmad Subarjo, merupakan pelaku sejarah yang dapat memberikan keterangan lisan mengenai penulisan konsep naskah teks proklamasi kemerdekaan Indonesia”. Dengan demikian sumber primer dapat menjadi kunci utama untuk melihat dan memahami masa lampau yang sesungguhnya telah terjadi.

2.      Sumber sekunder
Sumber ini berisi informasi atau keterangan yang diperoleh dari perantara, tetapi tidak memiliki hubungan secara langsung terhadap terjadinya peristiwa sejarah. Sumber sekunder ini digunakan untuk menjabarkan latar belakang terjadinya peritawa yang berhubungan dengan sebab-akibat. Bukti-bukti tertulis memiliki ketepatan dan keakuratan baik antara objek yaitu terjadinya peristiwa dan sumbyek yaitu manusia yang menjadi pelaku terjadinya peristiwa. Contoh : “Naskah teks proklamasi kemerdekaan Indonesia yang ditulis tangan oleh Ir. Soekarno maupun yang diketik oleh Sayuti Melik”.

3.      Sumber tersier
Sumber tersier ini merupakan keterangan lisan yang diperoleh atau disampaikan oleh pihak ketiga atau lebih. Yang dimaksud pihak ketiga adalah saksi ahli, yaitu seseorang yang memiliki keahlian pada bidang tertentu. Contohnya ahli sejarah, ahli geologi, ahli palaeoanthropologi, ahli anthropologi, ahli arkheologi.

Sedangkan berdasarkan pada bentuk atau wujudnya, maka sumber sejarah dapat dibedakan menjadi tiga macam, antara lain :
a.      Sumber tertulis
Sumber tertulis berisi keterangan atau informasi tertulis, seperti prasasti, naskah, dokumen, arsip, catatan. Sumber tertulis dapat dibedakan menjadi :

a)      Sumber tertulis sejaman dan setempat
Sumber ini tingkat derajatnya lebih tinggi, karena ditulis oleh orang sejaman dengan terjadinya peristiwa. Contoh :  “Prasasti Ciaruteun yang ditulis oleh orang yang hidup pada jaman kerajaan Tarumanegara”. Sehingga orang yang menulisnya tahu persis dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi pada jaman kerajaan Tarumanegara. Prasasti tersebut ditemukan didaerah Jawa Barat yang pernah menjadi tempat berdirinya kerajaan Tarumanegara (artinya sama-sama setempat dan sejaman).

b)      Sumber tertulis sejaman tidak setempat
Sumber ini ditulis oleh orang asing diluar negeri, sehingga keterangannya tidak lengkap bahkan tidak jelas, penulisannya hanya berdasarkan cerita dari mulut ke mulut. Contoh : “Prasasti Nalanda yang memberikan informasi tentang kerajaan Sriwijaya, tetapi ditulis oleh orang asing dari kerajaan Nalanda yang terdapat di India”.

c)      Sumber tertulis setempat tidak sejaman
Tingkat derajat sumber ini adalah menengah, sumber ini ditulis oleh orang setempat, tetapi jamannya berbeda. Penulisan sumber ini juga didasarkan dari cerita lisan, sehingga isi informasinya dapat saja ditambah atau bahkan dikurangi. Jenis sumber ini dapat berupa babad, kidung, epos, hikayat. Contoh : “ Babad Tanah Jawi, Kidung Sunda, Epos Arjuna Wiwaha”.

b.      Sumber lisan
Sumber lisan berupa keterangan langsung yang diperoleh dari para pelaku atau saksi peristiwa sejarah melalui wawancara. Dari keterangan lisan inilah maka dapat diperoleh sejumlah informasi yang sifatnya obyektif. Maksudnya tidak memihak pada salah satu kepentingan kelompok,  individu dan memiliki tujuan tertentu.

c.       Sumber benda
Sumber benda biasanya disebut artefak atau benda-benda peninggalan bersejarah. Benda-benda ini dapat berupa bangunan gedung, benteng pertahanan, candi, perhiasan, dan sebagainya. Ada tiga macam cara untuk mengetahui usia benda-benda peninggalan bersejarah, antara lain :
1.        Secara tipologi yaitu menentukan usia benda-benda sejarah berdasarkan pada bentuk atau tipenya.
2.        Secara stratigrafi yaitu menentukan usia benda berdasarkan usia lapisan tanah dimana benda-benda sejarah ditemukan. Maka pada lapisan tanah tingkat paling bawah menunjukkan bahwa usia benda semakin tua.
3.        Secara kimiawi yaitu menentukan usia benda sejarah berdasarkan pada unsur-unsur kimia yang terkandung didalamnya.


d.      Sumber rekaman
Sumber rekaman ini dapat berupa rekaman suara (audio), gambar mati (visual), dan gambar hidup bersuara (audio visual). Contoh : “Rekaman pembacaan naskah teks proklamasi kemerdekaan Indonesia oleh Ir. Soekarno”.
Berdasarkan pada tempat asal, maka sumber sejarah dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu :

1.      Sumber dari dalam negeri
Sumber ini ditemukan didalam negeri atau biasanya sering disebut sumber setempat dari asal terjadinya suatu peristiwa. Contoh : “Prasasti Kota Kapur yang ditemukan di Pulau Bangka yang isinya berupa informasi tentang keberadaan kerajaan Sriwijaya. Dengan demikian pulau Bangka merupakan bagian dari wilayah kekuasaan kerajaan Sriwijaya”
2.      Sumber dari luar negeri
Sumber ini berasal dari luar negeri tetapi isinya menginformasikan peristiwa-peristiwa yang terjadi didalam negeri. Contoh : “Prasasti Nalanda yang ditemukan di Nalanda, India. Isinya mengenai Raja Balaputradewa yang memerintah di kerajaan Sriwijaya dan Prasasti Ligor yang ditemukan di Tanah Genting Kra, Malaysia isinya juga tentang kerajaan Sriwijaya”.



B.       Bukti Sejarah
Setiap peristiwa atau kejadian dapat meninggalkan jejak, jejak itulah yang kemudian dapat menjadi bukti. Sedangkan bukti sejarah ada yang tertulis pada umumnya berupa benda-benda konkret dan ada bukti yang tidak tertulis. Bukti-bukti tersebut dapat meninggalkan pesan yang berisi sejumlah informasi mengenai terjadinya sebuah peristiwa. Bukti sejarah dapat dibedakan menjadi dua macam, antara lain :

a.         Bukti tertulis
Bukti tertulis mirip dengan sumber tertulis yang memuat berbagai macam fakta secara jelas. Fakta-fakta tertulis tersebut dapat memberikan informasi yang berhubungan dengan terjadinya suatu peristiwa. Sedangkan wujud bukti tertulis pada umumnya berupa benda-benda konkret. Adapun yang dimaksud dengan bukti-bukti tertulis, seperti; prasasti, naskah, buku, arsip, dokumen.

b.         Bukti tidak tertulis
Bukti sejarah tidak tertulis tidak berwujud benda-benda konkret, seperti cerita atau tradisi. Bukti tidak tertulis merupakan cerita-cerita lisan yang berkembang dalam kehidupan manusia. Meskipun demikian cerita lisan tetap mengnadung unsur-unsur sejarah. Cerita lisan ini berasal dari para pelaku dan saksi yang pernah terlibat secara langsung dalam peristiwa sejarah.


C.      Fakta Sejarah
Fakta adalah pernyataan tentang suatu peristiwa yang telah terjadi, dapat dilihat dan didengar, sehingga dapat diketahui secara langsung. Di dalam fakta sejarah terdapat data-data yang sudah terseleksi dari berbagai sumber yang dapat dipercaya kebenarannya. Dengan demikian, fakta sejarah dapat dibedakan menjadi dua yaitu :
a.       Fakta mental
Dalam sejarah fakta mental merupakan suatu kondisi yang menggambarkan suasana alam, pikiran, pandangan hidup, pendidikan, status, sosial, perasaan dan sikap yang menjadi dasar proses penciptaan suatu benda.
b.      Fakta social
Sedangkan fakta sosial merupakan suatu kondisi yang dapat menggambarkan keadaan sosial disekitar tokoh pencipta benda. Kandisi yang dimaksud, seperti; suasana jaman, keadaan lingkungan masyarakat dan sistim kemasyarakatan.

Sedangkan unsur-unsur yang terkandung dalam fakta meliputi ; peristiwa, sebab, akibat, manusia, tempat, waktu dan kronologi kejadian. Sehingga untuk mengungkap kembali fakta-fakta yang telah terjadi harus dapat menjawab unsur-unsur seperti; what, why, who, where, when dan how ( 5W + 1H ). Sebagai contoh yaitu tentang “Peristiwa proklamasi kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945.” Sehingga ada beberapa pertanyaan yang diajukan untuk mengungkap kembali fakta-faktanya, antara lain :


1.      What ( Apa )
§  Apa arti proklamasi ?
§  Apa arti kemerdekaan ?
2.      Why ( Mengapa )
§  Mengapa kemerdekaan Indonesia itu harus diperjuangkan ?
§  Mengapa proklamasi kemerdekaan Indoneisa harus dilaksanakan ?
3.      Who ( Siapa )
§  Siapakah tokoh-tokoh yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia ?
§  Siapakah tokoh-tokoh yang terlibat dalam peristiwa proklamasi kemerdekaan ?
4.      Where ( Dimana )
§  Dimanakah naskah teks proklamasi kemrdekaan Indonesia disusun?
§  Dimanakah peristiwa proklamasi kemerdekaan Indonesia dilaksanakan ?
5.      When ( Kapan )
§  Kapan naskah teks proklamasi kemrdekaan Indonesia disusun ?
§  Kapan peristiwa proklamasi kemerdekaan Indonesia dilaksanakan ?
6.      How ( Bagaimana )
§  Bagaimana kronologi peristiwa perumusan naskah teks proklamasi kemerdekaan ?
§  Bagaimana kronologi peristiwa proklamasi kemerdekaan Indonesia berlangsung ?



BAB III
PENUTUP

A.      Kesimpulan
Dapat disimpulkan bahwa sumber sejarah dapat dilihat berdasarkan bahannya,   yang dapat dibedakan atas sumber tertulis dan tidak tertulis atau dokumen atau artefak. Selain itu ada juga sumber lisan.

Berdasarkan urutan penyampaiannya, sumber sejarah terdiri atas sumber primer dan sekunder. Sumber primer dihasilkan oleh orang yang sezaman dengan peristiwa yang dikisahkan. Sumber sekunder adalah benda atau bahan yang telah diolah dan ditafsirkan oleh para ahli sejarah.

Fakta sejarah terdiri atas fakta mental dan fakta sosial. Fakta mental adalah gabaran tentang alam pikiran, pandangan, pendidikan, perasaan, dan sikap tokoh sejarah yang dilihat oleh pembuat dokumen. Fakta sosial adalah gambaran tentang keadaan sosial di zaman tokoh sejarah itu berada, seperti suasana zaman, lingkungan, dan masyarakat.

Demikianlah makalah yang telah kami susun sedemikian rupa. Apabila terdapat kata-kata yang salah didalam makalah ini kami semua minta maaf. Karena sesungguhnya manusia tak luput dari kesalahan dan kesempurnaan itu hanya milik Allah SWT.


DAFTAR PUSTAKA

Alfian, Magdalia, Soeyono, Nana Nurliana. Suhartono, Sudarini2007Sejarah untuk SMA dan MA Kelas X. Jakarta: Esis.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar